Malang, SeputarMalang.Com  –  Ditengah transisi Malang Raya menuju “New Normal” HMI Cabang Malang Bidang Kewirausahaan dan Ekonomi Kreatif menggelar diskusi online bertemakan “Penerapan New Normal dari Perspektif Industri dan Ekonomi Kreatif”. Diskusi ini dilaksanakan secara online melalui aplikasi Zoom, Minggu (31/05/20). Diskusi yang dimoderatori oleh Fahmi Aziz tersebut, menghadirkan dua narasumber, adalah Fahmi Fauzan (Kepala bidang Industri Dinas Koperasi, Industri dan Perdagangan Kota Malang) dan Priyo Sudibyo (Ketua Kadin Kab. Malang dan Ketua Dewan Pembina HIPMI). Dalam diskusi tersebut Sudibyo menyampaikan bahwa seluruh sektor kehidupan hari ini terdampak pandemi COVID-19, terutama disektor ekonomi dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), Dampak pandemi ini menjadikan daya beli masyarakat menurun, Hal ini dikarenakan  masyarakat hanya membeli kebutuhan primer saja. “Mereka lebih memilih untuk membeli kebutuhan pokok daripada kebutuhan lainnya,” terang pria yang juga ketua pemuda Pancasila kabupaten Malang ini. Lebih lanjut, Sudibyo menjelaskan bahwa dirinya melalui Kadin Kabupaten Malang tetap melakukan ikhtiar untuk bisa membantu UMKM keluar dari situasi sulit ditengah pandemi ini. Karena memang Bantuan dari  pemerintah juga tidak terlalu berpengaruh. Ketika para pelaku UMKM memiliki tanggungan tidak hutang yang hanya ditunda maka dibelakang mereka juga akan bendol mas, pemerintah harusnya memberikan dispensasi berupa pengurangan jumlah cicilan,” Tutur Sudibyo. Sementara itu kepala bidang Industri, Fahmi Fauzan dari Dinas Koperasi, Industri dan perdagangan Kota Malang, menyatakan,  pemerintah mengakui bahwa seluruh sektor kehidupan kita terdampak COVID -19, termasuk sektor ekonomi. Dalam hal ini pemerintah juga berada dalam situasi yang dilema, pemerintah juga menginginkan dibukanya kembali kran-kran ekonomi tapi disisi lain penyebaran COVID-19 harus dikendalikan. Masih menurut Fahmi, Pemerintah hanya bisa melakukan pendampingan-pendampingan kepada pelaku UMKM, dan itupun hanya diberikan ke usaha yang ditengah COVID -19 ini memang menjadi kebutuhan, seperti pembuatan masker dan beberapa usaha sembako lainnya. “Dalam pembuatan masker, kami memberikan modal bahan baku yang kemudian didistribusikan kepada konveksi, atau penjahit. Kurang lebih dengan 3-4 pekerja. Mereka bisa mendapatkan 1,5 sampai 2,5 juta dan itu cukup untuk menggerakkan mereka. Mungkin untuk pendapatan itu sedikit, tapi untuk motivasi itu besar,” Tandas Fahmi. “Seperti bantuan social yang sempat kita tangani. Paket sembako isinya ada beras. Beras ini menggunakan dari petani Tasik Madu, gula dan minyak dari pabrik. Mi kering hasil produksi dari Bandulan. Dan juga kering tempe yang menggerakkan industri tempe di Sanan,” ujar Fahmi. Fahmi juga menjawab terkait bagaimana para pelaku UMKM menghadapi “New Normal”. Pada intinya adalah bagaimana cara berdampingan, hidup bersama dengan bencana (COVID -19). Pada sektor industri harus menerapkan standar protokol kesehatan yang ketat. Masing-masing pelaku industri harus menerapkan standar protokol kesehatan yang ketat. Ada 3 hal yang bisa dilakukan pelaku industri. Terkait proses produksi yang bersih dan standar produksi yang tinggi. Kedua, mengenai distribusi barang, dan bahan baku. Yang terakhir pelayanan konsumen yang baik. Sehingga konsumen yakin telah mengonsumsi barang yang baik,” lanjutnya. Selain itu Fahmi mengutarakan ide industri yang bisa bertahan dimasa Covid-19. Industri yang paling bisa bertahan adalah industri yang bisa beradaptasi. Para pelaku industri atau UMKM diharapkan bisa memproduksi atau terinspirasi dari COVID -19. Fahmi Aziz, Pengurus HMI Cabang Malang yang juga mahasiswa Unira Malang sekalu moderator menambahkan bahwa terbangunnya optimisme sebagai bagian dari psychological capital pada publik adalah sesuatu yang urgen agar turunan-turunan dari dampak dari COVID-19 dapat dimitigasi secara kolektif.(*)


SeputarMalang.Com – Majelis Dakwah yang secara umum dinamakan Walisongo, sebenarnya terdiri dari Beberapa Periodesasi. Tercatat ada 10 periode, yang dihitung dari 1404 sampai 1897. Para anggota Majelis Dakwah Walisongo tidak hidup pada saat yang persis bersamaan, namun satu sama lain mempunyai keterkaitan erat, baik dalam ikatan darah atau karena pernikahan, maupun dalam hubungan guru-murid. Bila ada seorang anggota majelis yang wafat, maka posisinya digantikan oleh tokoh lainnya : Periodesasi ke-1 (1404 – 1435 M), terdiri dari: Syaikh Sayyid Maulana Ahmad Jumadil Kubro Syaikh Sayyid Maulana Ishaq, Syaikh Sayyid Maulana Malik Ibrohim (wafat 1419), Syaikh Sayyid Maulana Muhammad Al Maghribi, Syaikh Sayyid Maulana Malik Isro’il (wafat 1435), Syaikh Sayyid Maulana Muhammad Ali Akbar (wafat 1435), Syaikh Sayyid Maulana Hasanuddin, Syaikh Sayyid Maulana ‘Aliyuddin, dan Syaikh Sayyid Syamsuddin Al Baqir/ Sayyid Muhammad Al Baqir (Syaikh Subaqir). Periodesasi ke-2 (1435 – 1463 M), terdiri dari: Syaikh Sayyid Maulana Ahmad Jumadil Kubro Syaikh Sayyid Maulana Ishaq (wafat 1463), Syaikh Sayyid Ahmad Ali Rohmatullah/ Sunan Ampel pada tahun 1419 menggantikan Maulana Malik Ibrohim, Syaikh Sayyid Maulana Muhammad Al Maghribi, Syaikh Sayyid Jakfar Shodiq/ Sunan Kudus yang tahun 1435 menggantikan Maulana Malik Isro’il, Syaikh Sayyid Syarif Hidayatullah/ Sunan Gunung Jati yang tahun 1435 menggantikan Maulana Muhammad Ali Akbar, Syaikh Sayyid Maulana Hasanuddin (wafat 1462), Syaikh Sayyid Maulana ‘Aliyuddin (wafat 1462), dan Syaikh Sayyid Syamsuddin Al Baqir/ Sayyid Muhammad Al Baqir/ Syaikh Subaqir (wafat 1463). Periodesasi ke-3 (1463 – 1466 M), terdiri dari: Maulana Ahmad Jumadil Kubro (wafat 1465), Sunan Giri yang tahun 1463 menggantikan Maulana Ishaq, Sunan Ampel. Maulana Muhammad Al Maghribi (wafat 1465), Sunan Kudus, Syaikh Sayyid Syarif Hidayatullah/ Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang yang tahun 1462 menggantikan Maulana Hasanuddin, Sunan Derajat yang tahun 1462 menggantikan Maulana ‘Aliyyuddin, dan Sunan Kalijogo yang tahun 1463 menggantikan Syaikh Subaqir. Periodesasi ke-4 (1466 – 1513 M, terdiri dari: Sunan Ampel (wafat 1481), Sunan Giri (wafat 1505), Raden Fattah yang pada tahun 1465 mengganti Maulana Ahmad Jumadil Kubra, Fathullah Khan (Falatehan/ Fatahilah) yang pada tahun 1465 mengganti Maulana Muhammad Al Maghribi, Sunan Kudus, Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang, Sunan Derajat, dan Sunan Kalijogo (Mengembara 1513 – 1613). Periodesasi ke-5 (1513 – 1533 M), terdiri dari : Syekh Siti Jenar yang tahun 1481 menggantikan Sunan Ampel (wafat 1517), Raden Faqih Sunan Ampel II pada tahun 1505 menggantikan kakak iparnya Sunan Giri, Raden Fattah (wafat 1518), Fathullah Khan (Falatehan/ Fatahilah), Sunan Kudus (wafat 1550), Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang (wafat 1525), Sunan Derajat (wafat 1533), dan Sunan Muria yang tahun 1513 menggantikan ayahnya, (Sunan Kalijogo yang belum selesai mengembara). Periodesasi ke-6 (1533 – 1546 M), terdiri dari: Syekh Abdul Qohhar (Sunan Sedayu) pada tahun 1517 menggantikan ayahnya (Syekh Siti Jenar), Raden Zainal Abidin Sunan Demak pada tahun 1540 menggantikan kakaknya (Raden Faqih Sunan Ampel II), Sultan Trenggana yang tahun 1518 menggantikan ayahnya (Raden Fattah). Fathullah Khan (wafat 1573), Sayyid Amir Hasan yang tahun 1550 menggantikan ayahnya Sunan Kudus, Sunan Gunung Jati (wafat 1569), Raden Husamuddin Sunan Lamongan yang tahun 1525 menggantikan kakaknya Sunan Bonang, Sunan Pakuan yang tahun 1533 menggantikan ayahnya Sunan Derajat, dan Sunan Muria (wafat 1551). Periodesasi ke-7 (1546- 1591 M), terdiri dari: Syaikh Abdul Qohhar (wafat 1599), Sunan Prapen yang tahun 1570 menggantikan Raden Zainal Abidin Sunan Demak, Sunan Prawoto yang tahun 1546 menggantikan ayahnya Sultan Trenggana, Maulana Yusuf cucu Sunan Gunung Jati yang pada tahun 1573 menggantikan pamannya Fathullah Khan, Sayyid Amir Hasan, Maulana Hasanuddin yang pada tahun 1569 menggantikan ayahnya Sunan Gunung Jati, Sunan Bejagung yang tahun 1570 menggantikan Sunan Lamongan, Sunan Cendana yang tahun 1570 menggantikan kakeknya Sunan Pakuan, dan Sayyid Sholeh (Panembahan Pekaos) anak Sayyid Amir Hasan yang tahun 1551 menggantikan kakek dari pihak ibunya yaitu Sunan Muria. Periodesasi ke-8 (1592- 1650 M), terdiri dari: Syaikh Abdul Qodir (Sunan Magelang) yang menggantikan Sunan Sedayu (wafat 1599), Baba Daud Ar-Rumi Al-Jawi yang tahun 1650 menggantikan gurunya Sunan Prapen, Sultan Hadiwijaya (Joko Tingkir/ Mas Karebet) yang tahun 1549 menggantikan Sultan Prawoto, Maulana Yusuf, Sayyid Amir Hasan, Maulana Hasanuddin, Syekh Syamsuddin Abdullah Al-Sumatrani yang tahun 1650 menggantikan Sunan Bejagung, Syekh Abdul Ghofur bin Abbas Al-Manduri yang tahun 1650 menggantikan Sunan Cendana, dan Sayyid Sholeh (Panembahan Pekaos). Periodesasi ke 9, 1650 – 1750M, terdiri dari: Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan (tahun 1750 menggantikan Sunan Magelang) Syaikh Shihabuddin Al Jawi (tahun 1749 menggantikan Baba Daud Ar-Rumi) Sayyid Yusuf Anggawi (Raden Pratanu Madura), Sumenep Madura (Menggantikan mertuanya, yaitu Sultan Hadiwijaya / Joko Tingkir) Syaikh Haji Abdur Rauf Al Bantani, (tahun 1750 Menggantikan Maulana Yusuf, asal Cirebon ) Syaikh Nawawi Al Bantani. (1740 menggantikan Gurunya, yaitu Sayyid Amir Hasan bin Sunan Kudus) Sultan Abul Mufahir Muhammad Abdul Kadir ( tahun 1750 menggantikan buyutnya yaitu Maulana Hasanuddin) Sultan Abul Mu’ali Ahmad (Tahun 1750 menggantikan Syaikh Syamsuddin Abdullah Al-Sumatrani) Syaikh Abdul Ghafur bin Abbas Al Manduri Sayyid Ahmad Baidhowi Azmatkhan (tahun 1750 menggantikan ayahnya, Sayyid Sholih Panembahan Pekaos) Periodesasi ke-10, 1751 – 1897 terdiri dari: Pangeran Diponegoro (menggantikan gurunya, yaitu: Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan) Sentot Ali Basyah Prawirodirjo, (menggantikan Syaikh Shihabuddin Al Jawi) Kyai Mojo, (Menggantikan Sayyid Yusuf Anggawi (Raden Pratanu Madura) Kyai Kasan Besari, (Menggantikan Syaikh Haji Abdur Rauf Al Bantani) Syaikh Nawawi Al Bantani (yang di kenal sebagai Bapak Pesantren Indonesia) Sultan Ageng Tirtayasa Abdul Fattah, (menggantikan kakeknya, yaitu Sultan Abulmufahir Muhammad Abdul Kadir) Pangeran Sadzili, (Menggantikan kakeknya yaitu: Sultan Abul Mu’ali Ahmad) Sayyid Abdul Wahid Azmatkhan, Sumenep, Madura (Menggantikan Syaikh Abdul Ghofur bin Abbas Al-Manduri) Sayyid Abdur Rahman (Bhujuk Lek-Palek), Bangkalan, Madura, (Menggantikan kakeknya, yaitu: Sayyid Ahmad Baidhowi Azmatkhan) Tahun 1830 – 1900 (Majelis Dakwah Walisongo dibekukan oleh Kolonial Belanda, dan banyak para ulama dari didikan atau keturunan Walisongo yang dipenjara dan dibunuh). Semoga tulisan ini turut memberi pencerahan terkait dakwah yang di laksanakan majelis Walisongo, Karena siapapun Mereka, pada hakekatnya telah menyebarkan ajaran Islam dan dari generasi ke generasi selalu memback-up dengan orang-orang yang Amanah. Jika diantara mereka ada silsilah garis keturunan dengan Anda, maka beruntunglah Anda, artinya Anda punya Alasan untuk meneruskan Dakwah mereka kepada Masyarakat, sesuai dengan kondisi Masyarakat Anda berada, karena para Walisongo dalam menjalankan dakwah selalu berbaur dengan hati masyarakat, untuk kemudian membimbing secara pelan-pelan dan […]


SeputarMalang.Com – Tradisi malam “Likuran”  adalah tradisi sekaligus religius yang penuh makna. Tentunya hal ini sangat istimewa, karena anda dapat menyaksikan bagaimana antara budaya dan religi saling bersatu dan menguatkan. Bagi Anda penyuka kajian agama dan budaya, tentu tidak akan mau ketinggalan peristiwa ini. Dalam menyemarakkan sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, masyarakat berlomba-lomba mendapatkan malam kemuliaan (malam Lailatul Qodar), yang di dalam Al Qur’an disebutkan sebagai malam Seribu Bulan. Diantara cara untuk mengharapkan Barokah dari turunnya Lailatul Qodar tersebut, masyarakat Islam Jawa biasanya mengadakan sebuah kegiatan dengan mekukan malam “Likuran” (tradisi Selikuran). Merupakan salah satu tradisi leluhur yang diwariskan dan tetap lestari hingga kini, seperti di Keraton Surakarta, Yogyakarta, Mangkunegara, Paku Alam  dan masyarakat pedesaan di Jawa Tengah, Jogjakarta serta Jawa Timur. Tradisi Selikuran berasal dari bahasa Jawa yakni Selikur (sebutan bilangan 21), yang maknanya kurang lebih “Sing Linuwih Olehmu Tafakur”, sedang Tafakur artinya orang yang mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan begitu dalam melakukan ibadah puasa Ramadhan kita benar-benar khusyu dan berkualitas, baik dengan memperbanyak sedekah, i’ktikaf di masjid, tadarus Al Qur’an, dan lain-lain. Semua amalan itu merupakan upaya dalam memperoleh kemuliaan yang ada dalam Lailatul Qodar, sebab malam kemuliaan tidak dapat diperoleh kecuali dengan kesiapan rohani yang bersih dan suci. Tradisi ini sesungguhnya sudah lama muncul seiring dengan masuknya Islam ke Nusantara khususnya di Pulau Jawa, yang dilakukan para Wali Songo dalam dakwahnya para Wali Songo, menggunakan pendekatan budaya, yaitu menggunakan adat istiadat Jawa untuk menyampaikan ajaran-ajaran Islam. Dalam Bauwarna Adat Tata Cara Jawa karya Brata Siswara menyebutkan, selikuran merupakan upacara adat peringatan Nuzulul Qur’an dalam Maleman Sriwedari Surakarta yang digelar setiap tanggal 21 Ramadhan. Ritual ini diilhami dari Serat Ambya yang menyebutkan tiap tanggal gasal (ganjil) dimulai sejak 21 Ramadhan, Nabi Muhammad SAW turun dari Gunung Nur, yaitu setelah menerima ayat-ayat suci Al Qur’an. Selikuran dalam perspektif Islam adalah berawal dari Rosulullah Saw yang ber- i’tikaf di sepuluh hari terkahir di bulan Ramadhan, Nabi Saw bersabda :  “Carilah malam Lailatul Qodar di (malam ganjil) pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan ”. (HR. Bukhori dan Muslim). Dan Imam Syafi’i berkata :  “Menurut pemahamanku, Nabi Saw menjawab sesuai yang ditanyakan, yaitu ketika ada yang bertanya pada Nabi Saw : “Apakah kami mencarinya di malam ini? Beliau menjawab : “Carilah di malam tersebut ”. (Al Baghowi dalam Syarhus Sunnah). Dari situ dapat dipastikan bahwa tradisi selikuran memang terdapat perpaduan (sinkretisme) nilai-nilai Islam melalui budaya Jawa, sehingga akhirnya tradisi ini dilestarikan oleh kerajaan Mataram Islam pada masa itu, dan tetap bertahan hingga hari ini. Seiring perjalanannya, banyak warna dan bentuk pelaksanaan malam selikuran ini, misalnya upacara malam Selikuran yang dilaksanakan masyarakat pedesaan yang akrab dengan adat Jawa, yaitu masyarakat Islam di desa melaksanakan ritual kenduri di rumah setiap keluarga. Kenduri dengan hidangan nasi dan lauk-pauk yang disebut Rosulan, diadakan pada setiap malam tanggal ganjil, yaitu tanggal 21, 23, 25, 27, dan berakhir tanggal 29 Ramadhan. Ada juga pada acara selikuran dengan menyalakan lampu lampion (ting) dengan warna-warni disetiap rumah dan jalan-jalan. Disamping itu, tradisi jaburan juga mewarnai di dalamnya, yaitu upaya menyediakan konsumsi bagi acara likuran dengan cara gotong royong sistem giliran, dengan kuantitas dan kualitas jaburan seikhlasnya. Ada juga acara khotaman, yaitu sebuah acara membaca Al Qur’an mulai Juz 1 hingga Juz 30. Doa bersama sebagai tanda selesainya membaca Al Qur’an. Dan masih banyak lagi acara-acara yang dilakukan pada malam selikuran ini. Tentunya semua kegiatan tersebut sebagai upaya memperbanyak peribadatan kepada Allah SWT dan pensucian diri. Fase setelah masuk pada tahap sepuluh hari terakhir Ramadhan (disebut malam kemuliaan), dalam tradisi Islam Jawa dipercaya bahwa siapa saja yang dapat meraih malam tersebut, akan mendapatkan kemuliaan yang sangat luar biasa dalam kehidupannya ke depan, sebagai pengalaman spiritual untuk bekal hidup di dunia dan akhirat, penuh dengan keselamatan dan kebahagiaan, juga dibebaskannya dari api Neraka. Sehingga wajar ketika pada malam selikuran umat Islam tidak terkecuali masyarakat Islam Jawa dan Nusantara selalu mengadakan berbagai tradisi untuk menyambut datangnya malam kemuliaan, dengan penuh keseriusan dan keikhlasan. Zaman kerajaan-kerajaan Islam di Jawa dan Nusantara memang membawa pengaruh besar terhadap segala aspek kehidupan masyarakat, terutama dengan dimulainya proses peralihan kepercayaan dari Kapitayan – Hindu – Budha ke Islam. Akhirnya hingga kini, konsep sinkretisme Islam Jawa masih terpancar kuat di dalam setiap ritual budaya masyarakat Islam Jawa, termasuk tradisi selikuran sebagai kegiatan untuk menggapai malam kemuliaan yang penuh barokah dan kebaikan, yang dinilainya sama dengan ibadah seribu bulan. Bagaimanapun Rosulullah Saw menganjurkan kita melaksanakan persiapan meraih Lailatul Qodar tersebut melalui sabdanya : “Barangsiapa berpuasa karena keimanan kepada Allah SWT, dan melakukan perhitungan kepada diri sendiri (muhasabah), maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu ”. Muhasabah adalah sikap mau instropeksi (mengoreksi serta menghitung amal perbuatan diri sendiri). Adapun fadilah (keutamaan) dari Lailatul Qodar antara lain sebagaimana sabda Nabi Saw : “Barang siapa yang melaksanakan Sholat Tarowih pada malam Lailatul Qodar dengan dasar iman dan mengharap ridloh Allah, maka akan diampuni dosanya yang telah berlalu ”. (HR. Bukhori). Hadits yang lain, Nabi SAW bersabda : “Apabila datang Lailatul Qodar, Malaikat Jibril bersama Malaikat lainnya turun ke bumi mendoakan setiap hamba yang berdzikir dan berdoa kepada Allah Swt, maka Allah Swt menyatakan kepada para Malaikat bahwa Allah Swt akan memenuhi semua doanya “. Itulah mengapa malam kemuliaan tersebut sangat dinanti-nantikan dan begitu didambakan oleh semua orang Islam. Seperti disebutkan sebelumnya, bahwa malam kemuliaan hanya dapat diraih oleh manusia-manusia yang benar-benar bersih jiwanya, sehingga orang Islam di sepuluh hari terakhir Ramadhan ini terus berupaya dan berusaha lebih mendekatkan diri lagi kepada Allah Swt, yakni dengan melakukan amalan-amalan sholih, terutama pada malam selikuran Ramadhan yang dipercaya sebagai waktu turunnya Al Qur’an dan cahaya malam kemuliaan (Lailatul Qodar). Wallahu A’lam Bish Showab.


SeputarMalang.Com – Dalam menghadapi kehidupan yang semakin tidak menentu ini, mungkin ada baiknya kalau kita mencoba menelaah dasar-dasar falsaha hidup orang Jawa yang akan sangat berguna bagi kehidupan masyarakat zaman sekarang. Ajaran yang bukan hanya diperuntukkan bagi orang Jawa saja, tetapi juga bermanfaat bagi siapapun yang ingin mempelajarinya. Adalah dasar-dasar falsafah hidup orang Jawa ”Hanggayuh Kasampurnaning Hurip, Bèrbudi Bawaleksana, Ngudi Sejatining Becik”. Ketuhanan Pangeran iku siji, ana ing ngendi papan langgeng, sing nganakake jagad iki saisine, dadi sesembahane wong sak alam kabeh, nganggo carane dhewe-dhewe (Tuhan itu tunggal, ada di mana-mana, yang menciptakan jagad raya seisinya, disembah seluruh manusia sejagad dengan caranya masing-masing); Pangeran iku ana ing ngendi papan, aneng siro uga ana pangeran, nanging aja siro wani ngaku pangeran (Tuhan ada di mana saja, di dalam dirimu juga ada, namun kamu jangan berani mengaku sebagai Tuhan); Pangeran iku adoh tanpa wangenan, cedhak tanpa senggolan (Tuhan itu berada jauh namun tidak ada jarak, dekat tidak bersentuhan); Pangeran iku langgeng, tan kena kinaya ngapa, sangkan paraning dumadi (Tuhan itu abadi dan tak bisa diperumpamakan, menjadi asal dan tujuan kehidupan); Pangeran iku bisa mawujud, nanging wewujudan iku dudu Pangeran (Tuhan itu bisa mewujud namun perwujudannya bukan Tuhan); Pangeran iku kuwasa tanpa piranti, akarya alam saisine, kang katon lan kang ora kasat mata (Tuhan berkuasa tanpa alat dan pembantu, mencipta alam dan seluruh isinya, yang tampak dan tidak tampak); Pangeran iku ora mbedak-mbedakake kawulane (Tuhan itu tidak membeda-bedakan – pilih kasih – kepada seluruh umat manusia); Pangeran iku maha welas lan maha asih, hayuning bawana marga saka kanugrahaning Pangeran (Tuhan Maha Belas-Kasih, bumi terpelihara berkat anugrah Tuhan); Pangeran iku maha kuwasa, pepesthen saka karsaning Pangeran ora ana sing bisa murungake (Tuhan itu Mahakuasa, takdir ditentukan atas kehendak Tuhan, tiada yang bisa membatalkan kehendak Tuhan). Urip iku saka Pangeran, bali marang Pangeran (Kehidupan berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan); Pangeran iku ora sare (Tuhan tidak pernah tidur); Beda-beda pandumaning dumadi (Tuhan membagi anugrah yang berbeda-beda); Pasrah marang Pangeran iku ora ateges ora gelem nyambut gawe, nanging percaya yen Pangeran iku maha Kuwasa. Dene kasil orane apa kang kita tuju kuwi saka karsaning Pangeran (Pasrah kepada Tuhan bukan berarti enggan bekerja, namun percaya bahwa Tuhan Menentukan); Pangeran nitahake sira iku lantaran biyung ira, mulo kudu ngurmat biyung ira (Tuhan mencipta manusia dengan media ibumu, oleh sebab itu hormatilah ibumu); Sing bisa dadi utusaning Pangeran iku ora mung jalma manungsa wae (Yang bisa menjadi utusan Tuhan bukan hanya manusia saja); Purwa madya wasana (zaman awal/ sunyaruri, zaman tengah/ mercapada, zaman akhir/ keabadian); Owah gingsiring kahanan iku saka karsaning Pangeran kang murbeng jagad (Berubahnya keadaan itu atas kehendak Tuhan yang mencipta alam); Ora ana kasekten sing madhani pepesthen awit pepesthen iku wis ora ana sing bisa murungake (Tak ada kesaktian yang menyamai takdir Tuhan, sebab takdir itu tidak ada yang bisa membatalkan); Bener kang asale saka Pangeran iku lamun ora darbe sipat angkara murka lan seneng gawe sangsaraning liyan (Bener yang menurut Tuhan itu bila tidak memiliki sifat angkara murka dan gemar membuat kesengsaraan orang lain); Ing donya iki ana rong warna sing diarani bener, yakuwi bener mungguhing Pangeran lan bener saka kang lagi kuwasa (Kebenaran di dunia ada dua macam, yakni benar menurut Tuhan dan benar menurut penguasa); Bener saka kang lagi kuwasa iku uga ana rong warna, yakuwi kang cocok karo benering Pangeran lan kang ora cocok karo benering Pangeran (Benar menurut penguasa juga memiliki dua macam jenis yakni cocok dengan kebenaran menurut Tuhan dan tidak cocok dengan kebenaran Tuhan); Yen cocok karo benering Pangeran iku ateges bathara ngejawantah, nanging yen ora cocok karo benering Pangeran iku ateges titisaning brahala (Kebenaran yang sesuai dengan kebenaran menurut Tuhan, itu berarti tuhan yang mewujud, namun bila tidak sesuai dengan kebenaran menurut Tuhan, berarti penjelmaan angkara); Pangeran iku dudu dewa utawa manungsa, nanging sakabehing kang ana iki uga dewa lan manungsa asale saka Pangeran (Tuhan itu bukan dewa atau manusia, namun segala yang Ada (dewa dan manusia) adanya berasal dari Tuhan; Ala lan becik iku gandengane, kabeh kuwi saka karsaning Pangeran (Keburukan dan kebaikan merupakan satu kesatuan, semua itu sudah menjadi rumus/kehendak Tuhan); Manungsa iku saka dating Pangeran mula uga darbe sipating Pangeran (Manusia berasal dari zat Tuhan, maka manusia memiliki sifat-sifat Tuhan); Pangeran iku ora ana sing Padha, mula aja nggambar-nggambarake wujuding Pangeran (Tidak ada yang menyerupai Tuhan, maka janganlah melukiskan dan menggambarkan wujud tuhan); Pangeran iku kuwasa tanpa piranti, mula saka kuwi aja darbe pangira yen manungsa iku bisa dadi wakiling Pangeran (Tuhan berkuasa tanpa perlu pembantu, maka jangan menganggap manusia menjadi wakil Tuhan di bumi); Pangeran iku kuwasa, dene manungsa iku bisa (Tuhan itu Mahakuasa, sementara itu manusia hanyalah bisa) Pangeran iku bisa ngowahi kahanan apa wae tan kena kinaya ngapa (Tuhan mampu merubah keadaan apa saja tanpa bisa dibayangkan/perumpamakan) Pangeran bisa ngrusak kahanan kang wis ora diperlokake, lan bisa gawe kahanan anyar kang diperlokake (Tuhan mampu merusak keadaan yang tidak diperlukan lagi, dan bisa membuat keadaan baru yang diperlukan); Watu kayu iku darbe dating Pangeran, nanging dudu Pangeran (Batu dan kayu adalah milik zat Tuhan, namun bukanlah Tuhan); Manungsa iku bisa kadunungan dating Pangeran, nanging aja darbe pangira yen manungsa mau bisa diarani Pangeran (Di dalam manusia dapat bersemayam zat tuhan, akan tetapi jangan merasa bila manusia boleh disebut Tuhan) Titah alus lan titah kasat mata iku kabeh saka Pangeran, mula aja nyembah titah alus nanging aja ngina titah alus (Makhluk halus dan makhluk kasar/wadag semuanya berasal dari tuhan, maka dari itu jangan menyembah makhluk halus, namun juga jangan menghina makluk halus); Samubarang kang katon iki kalebu titah kang kasat mata, dene liyane kalebu titah alus (Semua yang tampak oleh mata termasuk makhluk kasat mata, sedangkan lainnya termasuk makhluk halus); Pangeran iku menangake manungsa senajan kaya ngapa (Tuhan memenangkan manusia walaupun seperti apa manusia itu); Pangeran maringi kawruh marang manungsa bab anane titah alus mau (Tuhan memberikan pengetahuan kepada manusia tentang eksistensi makhluk halus); Titah alus iku ora bisa dadi manungsa lamun manungsa dhewe ora darbe penyuwun marang Pangeran supaya titah alus mau ngejawantah (Makhluk halus tidak bisa menjadi manusia bila manusia […]


SeputarMalang.Com – Dalam menghadapi kehidupan yang semakin tidak menentu ini, mungkin ada baiknya kalau kita mencoba menelaah ajaran-ajaran bijak leluhur orang Jawa yang akan sangat berguna bagi kehidupan masyarakat zaman sekarang. Ajaran yang bukan hanya diperuntukkan bagi orang Jawa saja, tetapi juga bermanfaat bagi siapapun yang ingin mempelajarinya. Adalah “SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI” Semua Keberanian, Kekuatan, Kejayaan, dan Kemewahan yang ada di dalam diri manusia akan dikalahkan oleh Kebijaksanaan, Kasih Sayang, dan Kebaikan yang ada di sisi lain dari manusia itu sendiri. Suro = Keberanian. Dalam diri manusia, mempunyai sifat keberanian. Entah itu berani karena benar, berani karena jaga image, berani karena sok jago atau berani yang lain. Sifat ini sangat sebenarnya bagus tapi kalau sudah melanggar dari aturan-aturan ya sama aja bohong. Diro = Kekuatan. Manusia mempunyai kekuatan yang sangat luar biasa. Apalagi bila dalam keadaan terdesak maka kekuatan yang akan timbul bisa lebih besar lagi dari biasanya. Akan tetapi, sekarang ini banyak manusia yang hanya mengandalkan kekuatannya sehingga menimbulkan kerusakan dimana-mana. Hal ini nantinya akan berdampak kurang baik bagi siapapun juga termasuk yang menggunakan kekuatan secara berlebihan. Joyo = Kejayaan. Sebagian dari kita mungkin pernah merasakan bagaimana rasanya apabila kita selalu menjadi yang terdepan, kita selalu menjadi yang terbaik diantara yang lainnya. Nantinya apabila ini menjadi berlebihan maka kita akan menjadi sombong, pongah, dan menjadi manusia yang tidak ingin kalah. Bukankah mengalah tidak selamanya kalah? Ningrat = Bergelimang dengan kenikmatan duniawi. Ningrat disini mungkin bisa diartikan bahwa kita berkecukupan namun itu tidak menjadikan kita sebagai manusia yang rendah hati. Kita menjadi takabur akan kemewahan yang kita miliki sehingga melupakan yang lainnya. Lebur = Hancur, Musnah. Lebur artinya dilebur atau dimusnahkan atau dihancurkan. Ini mempunyai arti sesuatu yang nantinya akan dihancurkan. Dening = Dengan Pangastuti = Kebijaksanaan, Kasih Sayang, Kebaikan. “Surodiro Joyoningrat, Lebur Dening Pangastuti” Kata-kata yang mendasari kalimat tersebut ternyata semuanya mengandung sifat-sifat yang ada di dalam diri manusia. Bila dicermati lagi, disitu kita berada dalam posisi yang selalu di atas angin, menang sendiri. Prinsip Hidup Orang Jawa Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake, Sekti Tanpa Aji-aji, Sugih Tanpa Bandha (Berjuang tanpa perlu membawa massa; Menang tanpa merendahkan atau mempermalukan; Berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan, kekuatan; kekayaan atau keturunan; Kaya tanpa didasari kebendaan); Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan (Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri; Jangan sedih manakala kehilangan sesuatu); Sepi ing Pamrih Rame ing Gawe, Banter tan Mbancangi, Dhuwur tan Ngungkuli (Bekerja keras dan bersemangat tanpa pamrih; Cepat tanpa harus mendahului; Tinggi tanpa harus melebihi); Aja Gumunan, Aja Getunan, Aja Kagetan, Aja Aleman (Jangan mudah terheran-heran; Jangan mudah menyesal; Jangan mudah terkejut-kejut; Jangan mudah kolokan atau manja); Aja Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman (Janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi); Aja Kuminter Mundak Keblinger, Aja Cidra Mundak Cilaka, Sing Was-was Tiwas (Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah;Jjangan suka berbuat curang agar tidak celaka; dan Barang siapa yang ragu-ragu akan binasa atau merugi); Aja Milik Barang Kang Melok, Aja Mangro Mundak Kendo (Jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, indah; Jangan berfikir mendua agar tidak kendor niat dan kendor semangat); Aja Adigang, Adigung, Adiguna (Jangan sok kuasa, sok besar, sok sakti); Sing Sabar lan Ngalah Dadi kekasih Allah (Yang sabar dan mengalah akan jadi kekasih Allah); Sing Prihatin Bakal Memimpin (Siapa berani hidup prihatin akan menjadi satria, pejuang dan pemimpin); Sing Resik Uripe Bakal Mulya (Siapa yang bersih hidupnya akan hidup mulya); Urip Iku Urup (Hidup itu Nyala, Hidup itu hendaknya memberi manfaat); Sura Dira Joyo Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti (Keberanian, kekuatan dan kekuasaan dapat ditundukkan oleh sikap yang lemah lembut); Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara (Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak); Jer basuki mawa beya (Keberhasilan seseorang diperoleh dengan pengorbanan); Memangun karyenak tyasing sesame (Membuat enaknya perasaan orang lain); Kridhaning ati ora bisa mbedhah kuthaning pasthi (Gejolak jiwa tidak bisa merubah kepastian); Budi dayane manungsa ora bisa ngungkuli garise Kang Kuwasa (Sekuat usaha manusia tidak akan bisa mengatasi takdir Yang Maha Kuasa); Tan ngendhak gunaning janma (Tidak merendahkan kepandaian manusia); Mangan orang mangan waton kumpul (Menunjukkan yang penting itu kumpul, bukan sekadar kumpul, tetapi kerukunannya. Demi kerukunan kita harus melakukan apa pun. Kalau perlu sampai tidak makan. Jadi, bukannya pengertian makannya yang dikedepankan). Bersambung ke-Telaah Falsafah Jawa, Ihwal Dasar Hidup.


SeputarMalang.Com – Budaya dan tradiri megengan berkembang tidak hanya di dalam masyarakat Jawa, Madura, Sunda, dan Aceh saja, akan tetapi juga berkembang di dalam masyarakat pulau Sumatera, Kalimantan serta Sulawesi. Di dalam menyambut bulan suci Ramadhan, masyarakat biasanya berkumpul bersama keluarga, makan bersama, dan membaca dzikir dan tahlil untuk arwah leluhur serta keluarga mereka yang telah wafat. Selain itu, masyarakat juga melakukan ziarah kubur ke makam leluhur serta keluarga dan menggelar Tasyakuran Massal di masjid atau musholla. Ada juga masyarakat yang melakukan kunjungan silaturrohim untuk saling bermaaf-maafan. Semua fenomena budaya ini dilakukan dalam rangka menyambut gembira datangnya bulan suci Ramadhan dan meraih ridloh Allah Swt. Bagaimana Islam memandang fenomena budaya dan tradisi ini? Hadits Riwayat Imam Ahmad dan an-Nasa’i mengabarkan kepada kita bahwa Rosulullah SAW juga mengekspresikan kegembiraannya kepada para sahabat perihal kedatangan bulan suci Ramadhan sebagaimana dikutip dalam Hadits Riwayat Imam Ahmad dan An Nasa’i mengabarkan kepada kita bahwa Rosulullah Saw juga mengekspresikan kegembiraannya kepada para sahabat perihal kedatangan bulan suci Ramadhan. Rasulullah SAW memberikan kabar gembira kepada para sahabat atas kedatangan bulan Ramadhan sebagaimana riwayat Imam Ahmad dan an-Nasa’i dari Abu Hurairah RA. Ia menceritakan bahwa Rosulullah Saw memberikan kabar gembira atas kedatangan bulan Ramadhan dengan sabdanya, “Bulan Ramadhan telah mendatangi kalian, sebuah bulan penuh barokah di mana kalian diwajibkan berpuasa di dalamnya, sebuah bulan di mana pintu langit dibuka, pintu neraka Jahim ditutup, setan-setan diikat, dan sebuah bulan di mana di dalamnya terdapat malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Siapa saja yang luput dari kebaikannya, maka ia telah luput dari kebaikan yang banyak.” (Lihat Az Zarqoni, Syarah Az Zarqoni alal Mawahibil Ladunniyah bil Minahil Muhammadiyyah, Darul Kutub Al Ilmiyyah: 1996 Masehi/ 1417 Hijriyah, juz XI, halaman 222). Bagi sebagian ulama, hadits ini menjadi dasar hukum bagi masyarakat yang mengekspresikan kegembiraan perihal kedatangan bulan suci Ramadhan. Hadits ini membuktikan bahwa satu sama lain diperbolehkan untuk bergembira atas kedatangan bulan suci Ramadhan dan mereka dapat memberikan kabar gembira tersebut kepada orang lain. Nabi bersabda, “Sebagian ulama berpendapat bahwa hadits ini menjadi dasar atas praktik penyambutan yang dilakukan seseorang terhadap orang lain atas kedatangan bulan Ramadhan” (Lihat Az Zarqoni, Syarah Az Zarqoni alal Mawahibil Ladunniyah bil Minahil Muhammadiyyah, Darul Kutub Al Ilmiyyah: 1996 Masehi/ 1417 Hiriyah, juz XI, halaman 223). Adapun Al Qomuli mengatakan bahwa ulama berbeda pendapat perihal hukum ucapan selamat atas hari Ied, pergantian tahun, dan pergantian bulan yang diamalkan masyarakat. Tetapi yang jelas sejauh tradisi itu hanya berisi ucapan selamat datang atas bulan yang mulia tidak termasuk kategori sunnah atau bid’ah. Al Qomuli dalam Kitab al-Jawahir mengatakan, “Saya tidak melihat pendapat para ulama kita perihal  tahniah atau penyambutan gembira atas Hari Ied, pergantian tahun, atau bulan sebagaimana dilakukan oleh banyak orang”. Tetapi Al Hafiz Al Mundziri mengutipnya dari Al Hafiz Abul Hasan Al Maqdisi, “Orang-orang selalu berbeda pendapat perihal ini. Sedangkan pendapatku adalah bahwa hal itu mubah, bukan sunnah, bukan bid’ah. Selesai.” (Lihat Az Zarqoni, Syarah Az Zarqoni alal Mawahibil Ladunniyah bil Minahil Muhammadiyyah, , Darul Kutub Al Ilmiyyah: 1996 Masehi/ 1417 Hijriyah, juz XI, halaman 223). Budaya dan tradisi megengan yang berkembang pada umat Islam di Nusantara, berisi hal-hal yang baik, yaitu dzikir, tahlil, silaturrohim, makan bersama keluarga, ziarah kubur, dan shodaqoh, yang semuanya secara umum memang sangat dianjurkan kapan saja, di dalam ajaran agama Islam. Semoga Bermanfaat dan bisa menginspirasi bagi kehidupan kita di dunia dan akhirat. Ramadhan “Marhaban Yaa Ramadhan 1441 Hijriyah para sahabat SeputarMalang.Com“ Semoga Allah Swt Ridloh Dan Mengijabah Ibadah Serta Munajah Kita. Aamiin Yaa Mujiabas Saaíliin. * KRT. KH. Mukhammad Musyrifin Puja Reksa Budaya – Khodimul Úmmat Dlo’if wal Faqiir Ilaa Rohmatillah Tahta Aqdami Turobbikum Bengkel Akhlaq Padepokan Dzikir Dan Ta’lim Bumiaji Panatagama Kota Batu


SeputarMalang.com – Manusia sebagai makhluk yang paling sempurna, dikaruniai akal pikiran dan hati, sudah seharusnya jika berkata harus paham apa yang dikatakannya. Adapun yang dimaksud dengan Muhammad Rosulullah itu adalah kuburan atau makam yang ada di tanah Arab sana. Oleh sebab itu badan wadag manusia itu tempat berkumpulnya segala rasa yang memuji kepada badan sendiri, bukan menuji kepada Muhammad yang berada di Arab. Badan manusia merupakan cerminan Dzat Tuhan, tempatnya rasa. Sehingga yang dimaksud dengan “Rosul” itu adalah rasa kang nusul (rasa yang menyusul), dan lullah itu artinya luluh menjadi lembut. Disebut “Rosulullah” itu rasa ala ganda salah, dan lesan itu termasuk rasa yang dapat membimbing seseorang naik ke surga. Pengertian tersebut diringkas dengan Muhammad Rosulullah, yang berarti pengetahuan tentang “badan dan makanan”, maka menjadi kewajiban bagi manusia untuk menghayati tentang rasa, rasa dan makanan menjadi sebutan untuk “Muhammad Rosulullah”, maka ketika sholat mengucapkan usholli, yang artinya memahami asalnya. Adapun raga manusia itu berasal dari ruh idhofi, ruh Muhammad Rosul, artinya Rosul roso, keluarnya roso urip (hidup), keluar dari badan yang terbuka, akrina asyhadu an laa, jika tidak mengetahui artinya syahadat, maka tidak tahu rukun Islam, maka tidak akan mengerti asal kejadian urip” (Hariwijaya, 2004 : 156). Bagi manusia Jawa (kalangan Islam Kejawen), memahami Muhammad sebagai Nabi utusan Allah SWT bukan hanya sebatas syariat, yang hanya mengajarkan hukum-hukum agama saja (normatif). Jika ingin menjadikan nabi Muhammad sebagai suri teladan dari segi fisik, tingkah laku dan budi pekertinya maka sangat sulit, karena hidupnya jauh dari masa kita. Nabi Muhammad SAW yang hidup pada abad ke-6 Masehi, harus diproyeksikan ke abad 14, yang tentu saja memiliki banyak perbedaan ruang dan waktu. Bagaimana kita bisa mencontoh seluruh perilaku dan budi pekerti orang yang masa hidupnya berabad-abad jauh dari kita ? sementara ada orang  luhur pada masa kita yang dapat kita jadikan panutan. Demikian cara pandang orang Jawa dalam mencari panutan budi pekerti, sebagaimana digambarkan oleh Mangku Negara IV dalam Serat Wedhatama bait 10, sebagai berikut : “Lamun sira paksa nulad Tuladaning kanjeng nabi || Ngger kadohan panjangkah || Wateke tan betah kaki || Rehne ta sira Jawi || Setitik bae wus cukup || Aywa guru aleman || Nelad kas ngeblegi pekih || Lamun pengkuh pangangkah yekti karahmat”. Artinya : “Jika engkau paksakan untuk mengikuti Teladan Kanjeng Nabi || Anakku terlalu jauh jangkauanmu || Apakah akan betah (kuat) anakku || Karena engkau hanya orang Jawa|| Sedikit saja sudah cukup Ada || guru yang alim (aleman = aliman) || Orang yang pandai dalam bidang fikih || Jika engkau teguh menjalaninya maka akan mendapatkan rahmat”. Bait tersebut memberikan gambaran bahwa, orang Jawa jika hendak meneladani Nabi Muhammad Saw akan mengalami kesulitan, karena Islam di Jawa begitu jauh jarak, ruang, dan waktunya dari negeri asalnya, selain itu juga sifat kejawaan yang jauh berbeda dengan sifat kearaban. Jika demikian bukan mustahil bagi orang Jawa akan menemui kesulitan dalam meneladani seluruh perilaku Nabi Saw, oleh sebab itu sedikit saja sudah cukup. Cukuplah barang sedikit dalam meneladani Nabi Saw yaitu dengan menjalankan tugas inti kerosulannya, sebagai pembawa risalah. Inti tugas risalah Nabi SAW menurut Mahmud Syaltut adalah merupakan sebagian kecil dari keseluruhan perilaku hidupnya yang dikenal dengan as Sunnah (Ardani, 1995:155). Syaltut membedakan sunnah Nabi SAW menjadi dua, yaitu : (1) Sunnah yang wajib diteladani, yaitu sunnah yang bertalian dengan tugas kerasulan (risalah)-nya yang berkenaan dengan pokok-pokok akidah, ibadah, akhlak, dan penentuan halal haram; 2) Sunnah yang tidak wajib diteladani, yaitu yang berkaitan dengan perilaku hidup manusia biasa dalam hidup sehari-hari, pengalaman hidup, dan cara-cara mengatasi berbagai persoalan yang menimpanya. Jadi yang wajib ditaati adalah sunnah jenis pertama, sedangkan jenis kedua tidak. Oleh sebab itu, Muhammad hendaknya dipahami secara ruhaniah, karena fisiknya sama seperti manusia pada umumnya. Secara ruhaniah, Muhammad adalah manusia pembawa risalah yang telah mampu menembus alam inderawi menuju alam maknawi, mencapai pencerahan, manunggal dengan Tuhan Pencipta alam semesta. Sehingga nama “Muhammad” baginya adalah karunia Allah Swt, bukan hanya sebatas sebutan atau panggilan yang tidak ada maknanya. Huruf-huruf yang merangkai namanya mengandung makna yang harus dijadikan i’tibar bagi mereka yang berpikir. Untuk mengetahui makna atau hakikat dari nama Muhammad itu dibutuhkan ngelmu dan laku, maka salah satu cara memahami dan mencapai penghayatan tersebut seseorang harus masuk dalam dunia mistik sholat. Landasan berpikir Sastrawijaya terlihat dari pemahamannya terhadap kaidah-kaidah Islam yang tertuang dalam fikih dan juga ajaran tasawuf. Sebagai seorang muslim, diajarkan untuk sholat seperti layaknya Nabi Muhammad SAW melaksanakan sholat. Adapun Nabi SAW sendiri tidak pernah memberikan penjelasan yang detail tentang bagaimana sholat yang benar, seperti yang dikerjakan oleh Nabi SAW. Pembahasan tentang sholat kebanyakan hanya terbatas pada syarat sah dan rukunnya saja, dipahami dari sisi fikih semata (fikih oriented). Oleh sebab itu, seringkali seseorang melakukan sholat tetapi tidak pernah merasakan nikmatnya, bahkan jauh dari tujuan sholat yang sebenarnya. Maka dengan memahami “Muhammad” dalam sholat akan mampu menembus dinding inderawi (aspek normatif) sholat dan masuk dalam alam maknawi sholat, pada ujungnya kita merasakan perjumpaan dengan Tuhan yang sebenarnya. Sholat merupakan salah satu laku yang harus diamalkan oleh seorang muslim dalam mensucikan batin. Sholat yang dikerjakan secara normatif, terbatas hanya pada definisi fikih (ucapan dan perbuatan tertentu yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam) tidak akan mampu mencapai hakekat sholat. Meskipun demikian kita tidak boleh menafikan kaidah gerakan-gerakan dhohir sholat itu sendiri, karena gerakan-gerakan salat merupakan suatu cara yang telah ditentukan oleh Nabi Muhammad Saw. Maka untuk memahami hakekat sholat, mencapai pencerahan batin, merasakan kemanunggalan dengan Allah Swt harus seperti salatnya Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW : “Sholatlah kamu seperti kamu melihat aku sholat”. Namun untuk mengetahui bagaimana sholat nabi tersebut adalah hal yang musykil, apalagi dalam rentang waktu yang sudah berabad-abad. Jangankan kita yang hidup jauh dari masa Rosulullah SAW, para sahabat yang sering ikut sholat berjamaah dibelakang Rosul pun melakukan cara sholat yang berbeda-beda (Muhammad Al Bagir dalam Sukardi, 2001 : 78). Oleh sebab itu untuk memahami bagaimana sholatnya Nabi Muhammad SAW, Sastrawijaya mengambil dari sisi hakikat Muhammad sebagai pembawa pesan-pesan Ilahi. Perintah sholat yang didapat Nabi Muhammad Saw melalui peristiwa Mi’roj, merupakan pijakan untuk memahami hakekat sholat tersebut. Mi’roj berasal dari kata […]


SeputarMalang.Com – Kitab Wirid Hidayat Jati merupakan salah satu karya dalam khazanah kepustakaan Islam kejawen. Kitab ini adakalanya disebut secara singkat dengan nama Serat Wirid atau juga Hidayat Jati. Keistimewaan dari Wirid Hidayat Jati adalah merupakah hasil karya Raden Ngabehi Ronggawarsito (1802-1873). Dia seorang sastrawan istana Mataram Surakarta yang sangat masyhur. Bahkan kemudian oleh para pecinta kepustakaan Jawa, serta para pengagumnya, digelari sebagai pujangga penutup. Dengan gelar kehormatan sebagai pujangga penutup, berarti Ronggawarsito memiliki kedudukan yang amat tinggi. Kalau Nabi Muhammad mendapat gelar kehormatan sebagai khatam al-Anbiya’, atau sebagai Nabi penutup, maka Ronggawarsito-lah yang digelari sebagai pujangga penutup. Keistimewaan lainnya, menurut Simuh (1988), karena wirid hidayat jati ini disusun dalam bentuk jarwa atau prosa. Isi kandungannya diproyeksikan untuk menjadi kitab mistik yang cukup lengkap dan padat. Serat wirid yang diterbitkan oleh Administrasi Jawi Kandha, isinya meliputi: Upacara dan perlengkapan sajian yang harus diselenggarakan oleh seorang guru yang akan mengajarkan ilmu sufi, uraian bab guru dan murid, ajaran tentang Tuhan dan hubungan antara Dzat, sifat, asma dan af’al Tuhan, uraian tentang cita kesatuan antara manusia dengan Tuhan, jalan untuk mencapai penghayataan mistik dan kesatuan dengan Tuhan, tingkat-tingkat penghayatan mistik beserta godaan-godaan yang terdapat dalam tingkat-tingkat tersebut, uraian tentang penciptaan dan hakikat manusia, dan yang terakhir berupa aspek budi luhur (akhlak) beserta ajaran yang berkaitan dengan kesufian. Bila melihat struktur isi yang terdapat dalam serat wirid hidayat jati sebagaimana tertulis di atas, maka menjadi jelas bahwa karya ini mencoba mengkaji persoalan sufisme Jawa secara lengkap dan memadai. Ronggawarsito boleh dibilang telah berhasil dalam melakukan sinkretisme antara ajaran kebatinan Jawa dengan sufisme Islam, sehingga melahirkan corak sufisme Jawa yang otentik, di mana ajaran manunggaling kawulo – Gusti sangat khas dalam konsep sufisme Jawa yang dihadirkan dalam karya tersebut. Meski ajaran kesatuan wujud (manunggaling kaliwo – Gusti) sangat khas, namun kitab wirid hidayat jati bukan merupakan ajaran murni yang berbasis pada konsep kesatuan manusia dan Tuhan. Konsep sufisme yang tercermin dalam kitab wirid hidayat jati memiliki dua inti sekaligus, yakni ajaran sufi yang menekankan pada aspek teosentris (ketuhanan) juga aspek antroposentris (kemanusiaan). Sebabnya, dalam kitab wirid ini kolaborasi antara pembahasan Tuhan dan manusia tampak seimbang dan komprehensif. Sehingga tidak benar bila kitab wirid ini hanya berkaitan dengan cara mengenal Tuhan, tetapi juga sekaligus tentang cara mengenali hakikat manusia. Namun demikian, bahwa gambaran tentang Tuhan dalam wirid hidayat jati sangatlah bersifat antropomorfis. Artinya, Tuhan digambarkan berada pada hidup manusia, bahwa antara Tuhan dan manusia tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Hidup manusia menurut wirid hidayat jati merupakan sifat Tuhan. Sifat pastinya tidak terpisahkan dengan dzat. Oleh karena itu, Simuh menandaskan bahwa keterangan tentang Tuhan selalu timpang tindih dengan keterangan manusia. Uraian tentang Tuhan selalu dikaitkan dengan uraian tentang manusia sekaligus merupakan keterangan tentang Tuhan. Persoalan sufisme dalam wirid hidayat jati sebenarnya sama dengan ajaran sufisme ataupun mistik pada umumnya. Esensi sufisme pada umumnya adalah teosentrisme. Artinya, pusat kegiatan bukan mengabdi kepada Tuhan, akan tetapi justru mencari dan merindukan untuk bertemu muka dan pendapat petunjuk langsung dengan perantara bertatap muka dengan Dia (Tuhan). Atau dalam wirid hidayat jati bahkan bersatu dan menjadi berkuasa, seperti Tuhan sendiri. Dalam tasawuf, hubungan langsung ini memunculkan konsep makrifat, sementara dalam sufisme Jawa memunculkan konsep wangsit, petunjuk, dan manunggaling kawulo – Gusti. Yang jelas, ada perbedaan mendasar antara konsep sufisme dalam wirid hidayat jati dengan sufisme Islam. Sufisme Islam menuntut bentuk pemimpin rasional (ulama) sedangkan sufisme dalam wirid hidayat jati umumnya melahirkan bentuk kepemimpinan yang irasional. Misalnya pemitosan wali-wali keramat, orang-orang suci, raja-raja, beserta kuburan-kuburannya. Logika Islam adalah logika penalaran yang cerah, sedangkan logika sufisme Jawa adalah logika paradoksal dengan rumusan simbol-simbol. Jadi, konsep sufisme dalam wirid hidayat jati adalah ilmu serba ghoib dan banyak mitosnya. Sholat Sebagai Ngelmu dan Laku. Islam kejawen yang memang dilahirkan oleh tradisi besar keraton Jawa, walau bagaimanapun tetap menganggap sholat sebagai hal yang penting dalam kehidupan manusia. Lebih-lebih pada masa pemerintahan Paku Buwana III, yang memberikan perhatian terhadap kehidupan bergama dan budaya yang berkembang dalam masyarakatnya. Sholat tetap dipandang sebagai rukun agama, yang dapat membersihkan diri dari sifat-sifat tercela, bahkan sholat dijadikan sebagai salah satu ngelmu dan laku bagi masyarakat Jawa, khususnya kalangan Islam Kejawen. Ngelmu dan laku bagi masyarakat Islam kejawen merupakan peraturan tingkah laku yang baik dan mulia yang menjadi pedoman hidup manusia (Hariwijaya, 2004 : 204). Ngelmu dan laku merupakan spiritualitas masyarakat Jawa, karena ngelmu (ilmu) lebih memiliki nilai mistik, menekankan pada nilai-nilai batin, bukan ilmu pengetahuan yang didasarkan pada rasionalitas atau empirisme. Spiritualitas masyarakat Jawa dengan corak sufisme berkembang berkat kreatifitas sastrawan Jawa yang telah beragama Islam. Ciri pelaksanaan tasawuf yang menekankan pada berbagai latihan spiritual, seperti dzikir, puasa, dan juga sholat, dapat dijumpai dalam berbagai karya sastra pujangga Jawa. Demikian juga apa yang disampaikan oleh Sastrawijaya, yang menjadikan sholat sebagai salah satu laku spiritual bagi masyarakat Islam Jawa. Hal yang senada juga diajarkan oleh Mangku Negara IV dalam Serat Wedhatama, “Ngelmu iku kalakone kanthi laku. Lekase lawan kas, tegese kas nyamkosani. Setya budya pangekese dur angkoro.” Artinya: “Ngelmu (ilmu) itu hanya dapat dicapai dengan laku (mujahadah), dimulai dengan niat yang teguh, arti kas menjadikan sentosa. Iman yang teguh untuk mengatasi segala godaan rintangan dan kejahatan.” Ngelmu lebih dekat dengan ajaran tasawuf, yaitu ilmu hakikat atau ilmu batin, karena dijalani dengan mujahadah atau laku spiritual yang berat (Simuh, 1999). Oleh sebab itu, berdasarkan bait tersebut dapat dipahami bahwa, ilmu batini perlu disertai dengan “laku spiritual” (ngelmu iku kalakone kanthi laku). Keberhasilan pencapaian ilmu batin perlu diawali dengan mengalahkan nafsu jahat (dur angkoro) untuk mencapai derajat budi pekerti luhur (akhlak al karimah). Dalam masyarakat Jawa, laku spiritual yang sering dilakukan adalah dengan topo, yang merupakan salah satu bentuk puasa orang Jawa. Demikian juga halnya dengan sholat, menurut Sastrawijaya, bukan hanya sebatas melaksanakan perintah agama tetapi memiliki arti yang jauh lebih dalam daripada itu, yaitu sebagai ngelmu dan laku dalam membersihkan diri untuk mencapai persatuan dengan Tuhan (manunggaling kawulo – Gusti). Islam sebagai agama resmi kerajaan, pada masa pemerintahan Paku Buwana III, sebagaimana tercermin dalam berbagai karya para pujangga istananya (khususnya Sastrawijaya) telah menjadi dasar beragama yang kuat, dan juga telah menjadi dasar […]


SeputarMalang.Com – Dasar argumen tulisan ini adalah buku Damar Shashangka berjudul Induk Ilmu Kejawen: Wirid Hidayat Jati (Jakarta: Dolphin, 2014). Di buku tersebut, Shashangka mendefinisikan Kejawen dengan terlebih dahulu membedakannya dari Jawa Dipa dan Jawa Buda.  Yang dimaksud dengan Jawa Dipa adalah ajaran asli Jawa yang jejaknya dapat dilihat dalam berbagai upacara Jawa (seperti tumpengan dan lain-lain) dan kepercayaan Jawa – seperti kepercayaan tentang roh leluhur, tempat-tempat keramat dan perhitungan primbon (Shashangka, Induk Ilmu Kejawen, h. 21-22). Sebagian orang, seperti DR. R.Ng. KH. Agus Sunyoto dan B. Wiwoho, menyebut ajaran asli Jawa itu sebagai “Kapitayan”. Sebutan Kapitayan terkait dengan kepercayaan pada kekuatan ghoib yang disebut dengan Taya. Manifestasi Taya disebut TU. Ketika TU hadir dalam kebaikan yang terang, Ia disebut TU-Han. Ketika TU muncul dalam keburukan yang gelap, Ia disebut sebagai Han-TU. Daya ghoib TU dipercaya tersimpan di Wa-Tu (batu), TU-K (mata air), TU-Ban (air terjun) dan lain-lain. Maka, untuk-Nya, persembahan diberikan antara lain dalam bentuk TU-mpeng. TU positif yang diserap manusia disebut dengan TU-ah, sedangkan TU buruk yang diserap manusia disebut TU-lah. Manusia yang menerima TU secara paripurna pun disebut Ra-Tu. (Wiwoho, Islam Mencintai Nusantara, h. 62-63). Menurut Shashangka, “Kapitayan”, yang berisi keyakinan tersebut, merupakan terjemahan dari kata ‘Kepercayaan’, yang populer di dekade 1980-an, seiring dengan keberadaan Penghayat Aliran Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa di Indonesia. Tapi apakah kepercayaan Jawa asli itu bernama Kapitayan atau Jawa Dipa (artinya pelita Jawa), tidak bisa dipastikan. Yang jelas, Kejawen bukan seratus persen Kapitayan atau Jawa Dipa (Shashangka, Induk Ilmu Kejawen, h. 22). Kejawen juga bukan Jawa Buda. Sebab, Jawa Buda adalah campuran dari Jawa Dipa dengan agama Siwa dan agama Buddha Mahayana/ Tantrayana/ Wajrayana, yang berkembang pesat di masa Kerajaan Majapahit, lalu berpindah ke Bali. Di tangan Danghyang Dwijendra (rohaniawan Bali), Siwa-Jawa dan Buddha-Jawa dipisahkan dari rahim agama Jawa Buda, di mana unsur Siwa-Jawa yang lebih ditonjolkan, dan menjadi agama Tirtho, yang kemudian lebih dikenal sebagai agama Hindu Bali (Shashangka, Induk Ilmu Kejawen, h. 22-23). Mengapa Kejawen bukan Jawa Dipa murni dan bukan Jawa Buda? Sebab, inti dari Kejawen adalah Wirid Hidayat Jati. Rujukan utama Kejawen itu berisi wejangan Sunan Kalijogo (separuhnya), Delapan Wali yang lain dan Ronggawarsito. Ajaran itu tidak ada di zaman Majapahit, apalagi sebelumnya. Kemunculannya setelah Majapahit tumbang. Penyusunnya yang pertama Sunan Kalijogo, yang kedua Sultan Agung, yang ketiga Ronggowarsito. Isinya Islam Tasawuf berbalut budaya Jawa. Oleh karena itu, Kejawen Bukan Jawa Dipa murni, bukan pula Jawa Buda, pelepasan Islam Tasawuf Jawa yang menghubungkan mistisisme Islam dengan Jawa Dipa dan Jawa Buda (Shashangka, Induk Ilmu Kejawen, h.23-28). Hipotesis tersebut berjangkar pada isi Wirid Hidayat Jati. Permulaan buku itu adalah pemaparan tentang guru dan murid (Bab 1-2) yang notabene ajaran tasawuf Islam (murid) yang selaras dengan ajaran Jawa Buda (santri). Selanjutnya, Wirid Hidayat Jati mengisi hal ikhwal tentang wirid, yang tidak melulu terkait dengan doa, pelepasan wejangan yang bisa memancangkan pikiran malah diri kepada Tuhan. Wirid Hidayat Jati memaparkan bahasan tentang Tuhan, manusia, alam semesta, relasi manusia dengan Tuhan dan semesta, dan beberapa doa dan ritual. Di situ, ajaran Islam tasawuf tingkat tinggi diintegrasikan dengan budaya Jawa, yang bernuansa Jawa Dipa dan Jawa Buda. Misalnya, Jawa Dipa dan Jawa Buda semedi: menyatukan diri dengan kekuatan semesta. Di pihak lain, tingkat tertinggi relasi manusia dengan Tuhan versi Islam adalah ihsan, yaitu merasa ‘dilihat’ dan ‘melihat’ Tuhan. Di Kejawen, yang tercatat di Wirid Hidayat Jati, tirakat tertinggi dalam hubungan dengan Tuhan disebut sebagai Sholat Da’im. Secara Sejenis, Sholat Da’im (sholat abadi) selaras dengan ayat Al Qur’an (QS. Al Ma’arij : 23). Tapi pengertian Sholat Da’im versi Kejawen tidak bisa menjalankan sholat lima waktu dan sholat-sholat sunnah, pelan senantiasa mengingat Tuhan tanpa putus bangun tidur nyenyak lagi, yang dimulai dengan niat berbicara di sini. Apakah Sholat Da’im ala Kejawen itu ibadah kepada Tuhan tingkat tinggi? Jika orang Kejawen melakukan ibadah tingkat tinggi yang selaras dengan Islam dan salam pada wejangan yang penuh ajaran tasawuf Islam, layakkah orang kejawen dieklusikan dari Islam? Islam masuk ke tanah Jawa melalui berbagai jalur penyebaran yang masih mengundang perbedaan pendapat di kalangan ahli sejarah. Meskipun demikian, di kalangan masyarakat Jawa hidup suatu kepercayaan tentang peranan utama para wali (Wali Songo) dalam penyebarannya di tanah Jawa. Perkembangan kemudian yang dapat ditemui bahwa corak Islam yang berkembang di Jawa adalah Islam yang berwujud ajaran-ajaran tasawuf. Hal ini diduga erat berkaitan dengan kemiripan yang dipunyai ajaran tasawuf dengan unsur-unsur mistik yang kuat di masyarakat peninggalan dari tradisi animisme hingga era Hindu-Budha. Kemudian muncul satu bentuk sinkretisme antara tasawuf Islam dengan mistik kejawen. Dukungan politik keraton menjadi salah satu faktor pendorong menguatnya ajaran Kejawen di kalangan masyarakat Jawa. Setelah kekuasaan beralih dari Pajang ke Mataram, ajaran kebatinan adalah satu ajaran yang dipakai oleh penguasa Mataram. Dengan demikian maka penyebaran ajaran Islam telah gagal melakukan penetrasi ke wilayah pedalaman Jawa. Di luar kelompok ajaran Kejawen, banyak kelompok yang berseberangan. Penulis menyebut kelompok ini dengan Islam Syariah, yakni kelompok Islam yang berpandangan bahwa Islam mewajibkan ritual ibadah harus sesuai dengan fikih Islam yang sudah termaktub dalam Al Qur’an, hadits dan kitab-kitab ulama. Penganut Islam syariah, menganggap bahwa di dalam ber-Islam fikih (hukum Islam) harus dilaksanakan sebagai wujud ketaatan kepada Allah dan Rosulullah sebagaimana yang tercantum di dalam Al Qur’an dan Hadits. Orang yang melaksanakannya adalah orang yang salih dan benar dalam menjalankan ajaran Islam tanpa peduli kualitas spiritual dan efek ibadah normatif terhadap perilaku keseharian. Jika Islam Kejawen dipertemukan dengan Islam Syariah, maka yang terjadi adalah perdebatan yang tak kunjung selesai. Sebab antara keduanya terdapat perbedaan. Perseteruan antara Islam Kejawen dengan kelompok Islam Syariah, menimbulkan stigma bahwa laku spritual Islam Kejawen dianggap musyrik, sesat dan bid’ah sehingga harus dihindari. Hal ini tidak lain karena syariah yang diajarkan dalam Islam Kejawen tidak mewajibkan hal-hal yang bersifat fiqhiyyah. Sebab dalam ranah tauhid dan akhlak, tidak ada masalah sama sekali. Sebab yang disembah adalah Allah dan dalam akhlak, keduanya mengajarkan kebaikan kepada sesama manusia dan makhluk lainnya. Bagi penganut Kejawen bukanlah hal yang wajib sebab dalam laku spiritual orang tidak harus menjalankan seperangkat aturan fikih. Sebab kenyataannya tidak semua pelaksana fikih menjadi oang yang memiliki kualitas […]


Kepanjen, JelajahPesantren.Com  –  Bertempat di Hall K.H. Moch Said, Sabtu (18/01/2020) Rektor Universitas Islam Raden Rahmat (Unira) Malang Dr. Hasan Abadi,.MAP, membacakan SK  Kepengurusan Pusat Pengembangan Masyarakat Pesantren, disingkat P2MP. Secara simbolis pengukuhan P2MP ditandai dengan penyematan jas P2MP oleh Rektor kepada Direktur P2MP Unira Malang, Muhammad Romli Muar,M.H. P2MP merupakan lembaga yang diinisiasi oleh Fakultas Ilmu Keislaman Unira Malang untuk mendukung penguatan pesantren dalam bidang pendidikan, dakwah dan pemberdayaan. Pendidikan, Dakwah dan Pemberdayaan adalah fungsi utama amanah UU No. 18 Tahun 2019. Seperti dimahfumi bersama, zaman telah berkembang. Dan dalam perkembangan itu, banyak hal berubah. Bukan hanya teknologi yang berubah, perilaku manusia juga berubah. Baik perilaku dalam belajar, bersosialisasi maupun perilaku keseharian. Hal ini merupakan tantangan tersendiri bagi lembaga pendidikan, termasuk pesantren. Oleh karena itu, P2MP didesain untuk mendukung pesantren dalam melintasi zaman yang berubah dengan cepat tersebut.  Agar eksistensi pesantren tidak hanya berhenti pada pendidikan yang kelak akan dianggap kuno, akan tetapi juga akseleratif terhadap perubahan. Dalam kesempatan tersebut Mas Hasan, sapaan akrab Rektor Unira Malang mengatakan bahwa pesantren telah terbukti peran serta dan kepemilikan saham atas Republik ini. Pengesahan atas UU Pesantren harus menjadi momentum penerapan kapabilitas dinamis pesantren dalam menghadapi zaman yang terus berubah. “Kapabilitas dinamis, dynamic capability memungkinkan pesantren melakukan perubahan internal untuk mengikuti perubahan eksternal, sehingga membuat organisasi memiliki kinerja yang lebih tinggi, eksistensi pesantren akan semakin diakui,” ungkap Mas Hasan. Masih menurut Mas Hasan,  pentingnya pesantren melakukan perubahan pada internal organisasi untuk menghadapi perubahan eksternal maupun intensitas persaingan, terutama pada kondisi perubahan yang cepat. “Respon pesantren sebagai sebuah organisasi terhadap lingkungan yang dinamis, membutuhkan kombinasi kemampuan manajerial dan organisasi  untuk beradaptasi lebih cepat dan efektif. Inilah yang dibutuhan, kapasitas organisasi untuk perubahan, organizational change capacity,” urai Mas Hasan. “Cerita-cerita terkait kapasitas perubahan pada pesantren telah ada terbukti, bagaiman Kyai sebagai stakeholder utama mampu melewati tantangan zaman, P2MP Unira Malang harus terlibat secara langsung maupun tidak, karena positioning pesantren semakin dituntut perannya.” Pungkas Mas Hasan. Direktur P2MP Unira Malang, Muhammad Romli Muar,M.H menjelaskan tentang latar belakang terbentuknya P2MP ini adalah sebuah aksi insan akademis, ya keterpanggilan. UU Nomor 18 tahun 2019 tentang Pesantren telah disahkan dan diberlakukan namun aturan turunannya belum, ini adalah masalah yang elementer. UU ini mengamanatkan tiga hal pokok bagi pesantren, yaitu pendidikan, dakwah dan pemberdayaan. Pendidikan merupakan tugas utama dan pokok yang memang menjadi alasan utama pesantren didirikan. Dalam pendidikan tersebut, unsur dakwah juga terkandung didalamnya. Akan tetapi, kadangkala, ada satu hal yang sebenarnya menjadi potensi bagi pesantren namun belum digarap secara serius, yaitu pemberdayaan. “Dengan jumlah sekitar 28.000 pesantren yang tercatat di seluruh Indonesia, ini merupakan potensi yang luar biasa. Tentu saja jikapesantren-pesantren tersebut mengambil peran sebagai agen bagi perubahan sosial masyarakat di sekitarnya,” demikian diungkapkan oleh Muhammad Romli Muar, M.HI,  yang juga pengurus MUI Tirtoyudo ini. Dalam pengukuhan tersebut juga diselenggarakan Seminar Pesantren dengan tajuk “Peran dan Eksistensi Pesantren Pasca Pengesahan Undang-Undang Nomor 18 tahun 2019”. Hadir sebagai narasumber dalam seminar tersebut adalah anggota DPR RI darifraksi PKB Dra. Hj. Lathifah Shohib, KetuaRabithah al-Ma’ahid al-Islamiyyah (RMI) Kabupaten Malang, Gus H. Abu Yazid, serta DekanFakultas Ilmu Keislaman Unira Malanng, Dr.Saifuddin, M.Pd. Seminar sangat dinamis dengan moderator Kyai Muda dari Pakisaji yang juga dosen senior Fakultas Ilmu Keislaman Unira Malang, M. Hasan Bisri, MPd.I. Selain seminar, pengukuhan P2MP juga disertai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Unira Malang dengan tiga pesantren di wilayah Kabupaten Malang. Ketiga pesantren tersebut adalah Pesantren Miftahul Huda, Mojosari; Pesantren Darunnajah, Bululawang; serta Pesantren Nurul Huda, Tirtoyudo. Nota kesepahaman tersebut memuat komitmen Unira Malang melalui P2MP untuk mendukung pesantren dalam pendidikan, dakwah dan pemberdayaan. Salah satu wujudnya adalah Unira Malang akan memberikan beasiswa baik Sarjana maupun Pascasarjana kepada santri dan pengasuh dari pesantren-pesantren tersebut.